BlackBerry Messenger AgenLiga
Browsing articles tagged with " Bandar bola online"

Everton Ingin Menambah Derita MU

 

Everton mempunyai tekad untuk meneruskan derita Manchester United. Everton bakal merepotkan MU di akhir pekan ini. Kini MU sedang mengalami tren negatif saat bermain di pertandingan tandang. The Red Devils tercatat mesti menelan 4 kekalahan secara beruntun ketika mengunjungi markas lawan.

Terakhir, MU mesti takluk 0-3 ketika bertanding di kandang Barcelona di pertandingan leg II babak perempatfinal Liga Champions. Hasil itu sekaligus memastikan tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer tersingkir dari kompetisi nomor satu Eropa tersebut.

Di akhir pekan ini, MU tentu berniat untuk memutus rekor jelek mereka di pertandingan tandang ketika melawat ke Goodison Park pada hari Minggu (21/4/2019) untuk melawan Everton. Akan tetapi hal itu sepertinya tidak akan mudah diwujudkan oleh MU.

Soalnya Everton mempunyai rekor bagus saat bermain di Goodison Park. The Toffees mampu meraup 7 poin dari 3 pertandingan terakhirnya di kandang sendiri.

Yang lebih hebatnya, hal tersebut dilakukan tim asuhan Marco Silva itu saat melawan tim enam besar. Everton mampu menahan seri Liverpool 0-0 dan menang beruntun 2-0 atas Chelsea serta 1-0 atas Arsenal.

Silva sendiri mengatakan timnya siap untuk menjegal MU dan meneruskan hasil bagus di kandang. Manajer asal Portugal itu menyebut pertandingan ini akan sulit buat MU.

“Kalau kami sedang berada di level terbaik, ini bakal menjadi hal yang sangat sulit buat Manchester United. Kalau kami mendapatkan atau mencapai level yang sama dengan yang kami mainkan di dalam 3 laga kandang terakhir kami, maka itu akan berjalan sangat sulit buat mereka” ucap Silva.

Pada pertemuan pertama di musim ini, Everton mesti kalah 1-2 dari MU di Old Trafford. Silva pun berharap hasil itu tidak akan terulang di Goodison Park karena kondisi kedua tim saat ini sudah berbeda.

“Pelatih berbeda dan formasi berbeda. Mereka merubah formasi berkali-kali. Saat kami bermain menghadapi mereka di Old Trafford, pada saat itu kami mungkin kurang beruntung” sambung manajer berusia 41 tahun itu.

“Ini adalah situasi yang berbeda dan saya yakin 100% kami serta mereka akan kesulitan. Mereka bisa bermain dengan 6 atau 7 pemain berbeda di lini depan, semuanya dengan kualitas bagus. Gelandang mereka juga sangat kuat” lanjut Silva.

“Sekarang semua tergantung kepada kami untuk melakukan yang terbaik dan mencoba memenangkan laga” tuntas manajer kelahiran Lisbon, 12 Juli 1977 itu.

Pelatih Valencia Sebut Arsenal Favorit Juara Liga Eropa

Valencia maju ke semi-final Liga Eropa dengan mengalahkan Villarreal pada hari Kamis, mengadakan pertandingan dengan The Gunners.Pelatih Valencia Marcelino menegaskan tekanan akan ada pada Arsenal ketika timnya menghadapi The Gunners di semi final Liga Eropa.

Toni Lato dan Dani Parejo tepat sasaran untuk Los Che saat mereka mengalahkan Villarreal 2-0 pada hari Kamis untuk memastikan keberhasilan agregat 5-1 yang nyaman di delapan besar.Marcelino kurang terkesan dengan penampilan timnya di leg pertama, tetapi dihargai oleh penampilan dominan di Mestalla.

Pertemuan empat besar melawan Arsenal – dipimpin oleh pemenang Liga Europa tiga kali dan mantan bos Valencia Unai Emery – adalah hadiah mereka, dan Marcelino menegaskan tim Liga Premier harus dianggap sebagai favorit.

“Arsenal berjuang untuk masuk ke Liga Champions, dengan pelatih yang mengenal kami dengan sempurna, mereka adalah salah satu favorit,” kata Marcelino dalam konferensi pers.”Tapi apa pun bisa terjadi di semi-final. Pada saat yang sama, [final di] Baku masih jauh.” Valencia mengalami awal yang sulit untuk kampanye, tetapi tim Marcelino duduk hanya tiga poin dari empat besar di LaLiga, dengan final Copa del Rey melawan Barcelona akan datang.

“Kami bangga dengan penampilan skuad, kami berada di semi final dan final, dan kami satu kemenangan lagi dari urutan keempat,” tambah Marcelino.”Menang di Seville [melawan Real Betis pada hari Minggu] akan menempatkan kami dalam situasi yang sangat baik.”

Arsenal memang lebih di unggulkan ketika bertemu tim asal Spanyol tersebut, karena jam terbang yang lebih banyak dan di penuhi para pemain berpengalaman yang sangat penting dalam situasi laga seperti ini.

 

Erik Ten Hag Sang Arsitek Ajax

 

Angkat topi buat kiprah Ajax Amsterdam di Liga Champions musim ini. Tim-tim top sudah dikalahkan oleh tim besutan Erik Ten Hag itu untuk menjejakkan kakinya di babak semifinal.

Ajax berhasil melangkah ke babak semifinal Liga Champions di musim ini setelah menundukkan Juventus di Allianz Stadium pada hari Rabu (17/4/2019) dinihari WIB di leg II. Ketinggalan terlebih dulu setelah dijebol Cristiano Ronaldo, Ajax membalikkan keadaan lewat Donny Van De Beek dan Matthijs De Ligt.

Dengan kemenangan tersebut, Ajax pun melangkah dengan agregat 3-2. Kemenangan ini meneruskan tren positif De Godenzonen di Liga Champions.

Juventus menjadi korban Ajax sesudah klub raksasa lainnya, Real Madrid, pada babak 16 besar. Bahkan sebenarnya sejak di fase grup, tim asuhan Ten Hag itu sudah memperlihatkan potensi besarnya.

Bergabung bersama Bayern Munchen, Benfica dan AEK Athena, Ajax lolos tanpa kekalahan walaupun mesti puas berada di peringkat 2. Klub asal Belanda itu meraih 3 kemenangan dan 3 kali seri, finis dengan 12 poin dan ketinggalan 2 poin dari Die Roten.

Atas kiprah Ajax ini, Ten Hag pun patut mendapatkan kredit besar. Bagaimana tidak, murid Josep Guardiola itu berhasil memaksimalkan tim muda yang dimilikinya (rata-rata usia Ajax 24,1 tahun) untuk bertarung dengan tim-tim yang berisikan pemain bintang dan berpengalaman seperti Munchen, Madrid dan Juventus.

Ya, Ten Hag dapat disebut sebagai anak didik Guardiola. Keduanya bertemu di Munchen pada tahun 2013. Munchen tertarik dengan Ten Hag setelah melihat kiprah si pelatih bersama Go Ahead Eagles pada musim 2012/2013, kemudian menjadikannya sebagai pelatih Bayern Munchen II alias tim reserve.

Sementara Guardiola ditunjuk sebagai pelatih tim utama di saat yang bersamaan. Peluang bekerjasama dengan Guardiola inilah yang lantas memoles Ten Hag.

“Saya belajar banyak dari Josep Guardiola. Filosofinya itu amat sensasional, yang dia lakukan sewaktu di Barcelona, Bayern Munchen dan sekaran Manchester City. Gaya menyerang nan atraktif membuat Guardiola memenangkan banyak hal” kata Ten Hag.

“Struktur inilah yang coba saya terapkan bersama Ajax Amsterdam” tambah pelatih berusia 49 tahun itu.

Salah satu ilmu terbesar yang diperoleh Ten Hag dari Guardiola adalah fleksibilitas taktik. Ten Hag biasanya memainkan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1, namun sangat dinamis di dalam praktik di atas lapangan. Dalam riwayat melatihnya, pelatih kelahiran Haaksbergen, 2 Februari 1970 itu tidak ragu-ragu memainkan formasi 4-4-2 berlian bahkan pola 5-3-2.

Selain hal itu, pendekatannya kepada para pemain juga menarik dan begitu detail. Ten Hag amat mementingkan aspek mental. Ten Hag akan memperhatikan reaksi-reaksi para pemainnya terhadap sebuah insiden negatif, misalnya kehilangan bola, pelanggara atau saat kebobolan.

Dari hasil pengamatan ini, Ten Hag bakal menerapkan pendekatan yang dinilai tepat untuk setiap pemain berdasarkan reaksinya. Dari sanalah muncul sesi latihan yang intensif dan panjang, yang bahkan sering dirasa membosankan oleh para pemainnya.

Maka tidak heran jika Ajax yang  rata-rata usianya termuda di antara perempatfinalis, memiliki kematangan untuk bersaing dengan tim seperti Madrid dan Juventus. Ajax bahkan selalu memulai leg II dalam posisi yang tidak menguntungkan, ketinggalan 1-2 dari Madrid, kalah gol tandan dari Juventus setelah berimbang 1-1 di Amsterdam.

Yang menarik adalah Ten Hag masih berkesempatan melawan sang mentor, Guardiola di semifinal. Kalau City mampu membalikkan ketertinggalan 0-1 melawan Tottenham Hotspur, maka Ten Hag vs Guardiola akan terwujud di babak semifinal.

Kalau itu terjadi, kira-kira siapa yang bakal menang? Ten Hag atau Guardiola?

Meski Picu Kontroversi, UEFA Percaya Kinerja VAR Sudah Oke

Video Assistant Referee (VAR) mengundang banyak kontroversi di setiap laga contohnya antara babak 16 besar Liga Champions antara Real Madrid melawan Ajax hari Kamis (14/2) lalu. Namun bagi federasi tertinggi Eropa, UEFA, kinerja teknologi tersebut sudah sangat layak di acungi jempol.

Debut VAR di mulai dalam laga yang mempertemukan Manchester United dengan Paris Saint Germain hari Rabu (13/2) dini hari kemarin. Pertandingan itu sendiri, juga merupakan laga antara Porto melawan AS Roma yang berlangsung di hari yang sama, berjalan dengan sangat mulus.

Namun pada hari selanjutnya, VAR sudah mengundang reaksi negatif dari berbagai kalangan. Sebab klub raksasa Spanyol, Real Madrid, di sebut tengah di untungkan oleh teknologi tersebut sehingga mampu mengalahkan Ajax Amsterdam.

Senang dengan Kinerja VAR

Kontroversi terjadi saat wasit menduga bahwa gol Ajax Amsterdam yang telah di ciptakan oleh Nicolas Tagliafico di babak pertama. Setelah melihat tayangan ulang VAR, ia menganggap bahwa Tagliafico beserta pemain lainnya, Dusan Tadic, berada dalam perangkap offside.

Namun publik meyakini bahwa keputusan wasit merupakan suatu keputusan yang salah, sebab dalam tayangan ulang keduanya berada dalam posisi yang sah. Hal itu menjadi bahan perbincangan hingga akhirnya istilah ‘Video Assist RealMadrid’ terucapkan.

Namun UEFA, di wakili oleh kepala petugas wasit Roberto Rosseti, tidak merasa ada yang salah dengan VAR. Bahkan, ia meyakini teknologi tersebut sudah menunjukkan kinerja yang baik.

“Saya sangat senang dengan bagaimana VAR diimplementasikan. Teknologi itu bekerja dengan sempurna, dan tim wasit bekerja pada level yang sangat tinggi. Itu menunjukkan hasil kerja keras yang telah kami lakukan,” ujar Rosseti seperti yang di kutip dari Goal.

Keputusan Wasit Sudah Tepat

Lebih lanjut, Rosseti meyakini bahwa wasit dalam laga antara Real Madrid melawan Ajax telah mengambil keputusan yang tepat. Ia menganggap Tagliafico beserta Dusan Tadic berada pada posisi offside dan mengganggu kiper Los Merengues, Thibaut Courtois.

“Ini sudah sejalan dengan protokol VAR dan pembatalan gol sudah benar, serta pemberian tendangan bebas tak langsung untuk offside itu,” tandasnya.

Pertandingan tersebut berakhir dengan kedudukan 2-1 untuk Real Madrid. Gol sang juara bertahan Liga Champions itu diciptakan oleh Karim Benzema dan Marco Asensio, sedangkan Ajax hanya mampu membalasnya melalui aksi Hakim Ziyech.

Ketimbang Juventus, De Ligt Disarankan Berduet dengan Van Dijk di Liverpool

Rene van der Gijp, Mantan pemain timnas Belanda, yang memberikan saran kepada Matthijs De Ligt agar ia lebih baik bergabung dengan Liverpool di musim depan. Sebab menurutnya, bek muda Ajax Amsterdam itu akan lebih baik jika berduet dengan Virgil van Dijk.

De Ligt yang menjadi buruan banyak tim besar Eropa berkat penampilannya bersama Ajax Amsterdam di musim lalu. Selain itu, pertimbangan umur yang baru menginjak 19 tahun membuat klub klub lainnya menganggap De Ligt sebagai investasi yang brilian.

Berkat performa apiknya, De Ligt pun mendapatkan penghargaan Golden Boy di tahun 2018 lalu. Mengalahkan Kylian Mbappe yang sukses meraih banyak prestasi gemilang baik bersama Timnas Prancis maupun Paris Saint Germain.

Berduet dengan Van Dijk

Karakter yang kuat di jantung pertahanan membuat Juventus melihat De Ligt sebagai suksesor sang kapten, Giorgio Chiellini. melalui manajer umum Edwin van der Sar, juga pernah mengkonfirmasi ketertarikan Bianconeri terhadap pemainnya tersebut.

De Ligt di yakini dapat menimba banyak ilmu di Italia yang di kenal sebagai penghasil bek-bek berkualitas. Namun van der Gijp merasa bahwa De Ligt lebih baik melanjutkan karirnya di Liverpool guna berduet dengan pemain Timnas Belanda, Van Dijk.

“Akan menjadi sesuatu yang hebat bagi sepak bola Belanda bila kedua pemain itu bermain bersama untuk lima atau enam tahun lamanya,” tutur van der Gijp kepada Voetbal Primeur.

“Lalu, anda akan mendapatkan perpaduan bek sentral terbaik di Eropa,” lanjutnya.

Harus Bergerak Cepat

Jika Liverpool tertarik, jelas mereka wajib bergerak lebih cepat. Sebab Juventus sudah mengambil ancang-ancang lebih dulu. Sang direktur, Fabio Paratici, disebut sempat terlihat di Johan Cruijff ArenA untuk memantau performanya melawan Real Madrid hari Kamis (14/2) lalu.

Selain itu, Barcelona juga di kabarkan berminat untuk mendapatkan tanda tangan bek bernomor punggung 4 tersebut. Apalagi, mereka baru saja sukses mengamankan jasa Frenkie De Jong yang merupakan rekan setim De Ligt.

Chelsea Bakal Turunkan Skuat yang Paling Kuat Hadapi Manchester United

Laga babak kelima FA Cup yang sebentar lagi akan mempertemukan Manchester United dan Chelsea pada hari Selasa (19/2) nanti dapat di yakini bakal berjalan dengan sangat ketat. Maka dari itu, The Blues tidak ingin tampil setengah setengah dan menyatakan akan menurukan skuat terbaik mereka.

Chelsea jelas sangat membutuhkan kemenangan pada pertandingan kali ini. Selain untuk memperpanjang langkah mereka di kompetisi itu, The Blues juga butuh tambahan motivasi setelah melalui masa masa yang terbilang sulit dan buruk di pekan kemarin.

Seperti yang di ketahui, Eden Hazard dan para rekan timnya menelan kekalahan telak saat bertemu Manchester City di Premier League akhir pekan lalu, juga atas Bournemouth beberapa hari sebelumnya. Untung saja, hasil kontra Malmo di ajang Liga Europa hari Jumat (15/2) bisa sedikit menghibur.

Siapkan Tim Terkuat

Laga kontra Manchester United di yakini tidak akan berjalan dengan mulus dan mudah. Sebab, Ole Gunnar Solskjaer baru saja berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik Paul Pogba dan kawan kawan. Meski kalah atas Paris Saint Germain hari Rabu (14/2) lalu, namun fakta bahwa mereka tak terkalahkan dalam 11 laga sebelumnya tidak bisa di lupakan begitu saja.

Maka dari itu, Chelsea tidak bisa setengah-setengah dalam mengeluarkan kemampuan mereka. Gianfranco Zola, yang menggantikan Maurizio Sarri dalam konferensi pers baru baru ini, menyatakan bahwa The Blues akan menampilkan skuat terkuatnya untuk membendung gempuran dari para pemain Manchester United.

“Kami akan menilai beberapa pemain, Ruben Loftus-Cheek mungkin bisa tampil. Ini adalah babak kelima FA Cup, kami ingin menang dan akan menurunkan tim yang kuat. Kami belum membuat pertimbangan penuh, sebab ini baru hari Jumat (Sabtu WIB),” ujar Zola, seperti di kutip dari talkSPORT.

Solskjaer Apik, Zola Turut Bahagia

Adanya Ole Gunnar Solskjaer membuat Manchester United berhasil merangkak naik ke posisi empat di klasemen Premier League. Meski posisi Chelsea diambil alih, namun Zola mengaku senang dengan dampak yang diberikan oleh mantan pelatih Molde itu.

“Saya senang. Saya kenal Ole karena kami belajar bersama. Dan saya senang bisa melihatnya bekerja dengan baik,” tambah pria asal Italia tersebut.

“Saya tahu United sempat mengalami masa-masa buruk, tapi saya tahu nilai tim tersebut. Anda bisa melihat seseorang yang berfokus pada apa yang mereka lakukan. Oleh melakukan hal itu,” tandasnya.

Sedangkan Chelsea sendiri, setelah kalah dari Manchester City, harus turun ke peringkat enam. Walau begitu, mereka masih punya peluang untuk kembali ke empat besar mengingat jarak poin dengan United tidak terpaut jauh, hanya satu angka saja.

Chris Smalling Targetkan MU Finis Di Empat Besar Serta Menangkan Trofi Juara

Chris Smalling memberikan target bagi Manchester United untuk finis pada peringkat empat besar dan juga memenangkan sejumlah trofi juara pada saat akhir musim. Namun untuk menjadi juara Premier League, pada musim depan nantinya MU disebutnya akan menjadi penantang yang jauh lebih serius.

Untuk pertama kalinya di msuim 2018/2019, Manchester United mampu untuk masuk kedalam peringkat empat besar kompetisi Premier League. Keberhasilan Setan Merah untuk naik tangga klasemen tidak lain berkat peran yang sangat besar dari Ole Gunnar Solskjaer yang dimana dibawah kepelatihannya The Red Devils mampu untuk memenangkan 10 dari 11 pertandingan terakhir yang mereka jalani didalam kompetisi domestik.

Meskipun telah masuk kedalam peringkat empat besar, akan tetapi Setan Merah masih tertinggal sangat jauh dari Manchester City dan juga Liverpool yang sekarang ini berada pada peringkat paling atas ditanggal klasemen sementara. Pada saat peluang untuk menjadi juara sudah hampir tertutup sepenuhnya, Setan Merah ditargetkan akan mampu untuk finis pada peringkat empat besar dan juga memenangkan trofi juara pada saat akhir musim ii.

Namun untuk musim depan, Setan Merah diyakini akan dapat kembali lagi masuk kedalam persaingan untuk menjadi sang juara.

“Butuh waktu bagi kami untuk kesana (menjadi juara di kompetisi liga). Namun didalam dua bulan yang terakhir sudah ada evolusi yang sangat bagus dari kami. Kami akan pergi ke sana (markas Paris Saint-Germain) dan kemudian memberikan semuanya dikarenakan ini masihlah sangat jauh dari kata berakhir. Kemungkinan pada saat musim depan nanti kami akan memulai semuanya lagi, terutama dalam kompetisi liga. Itu dikarenakan saya menilai kalau saat itu kami sudah sangat siap untuk menjadi penantang,” kata Smalling didalam salah satu acara media sepakbola.

“Saya berpikir kalau dengan semua yang sudah berubah, semoga kami akan dapat menyelesaikan musim ini dengan trofi juara dan juga masuk kedalam empat besar. Namun hanya lolos kedalam kompetisi Liga Champions bukanlah harapan yang kami mau setiap tahunnya.”

“Andai kami dapat bermain seperti yang sekarang ini dan juga terus tetap berkembang, saya berpikir kalau musim panas dengan pramusim tentu akan menjadi momen bagi kami kembali lagi menjadi top, semoga itu bisa terjadi,” lanjutnya.

Selain kompetisi Premier League, Peluang Setan Merah untuk memenangkan titel juara masih cukup terbuka dalam kompetisi Piala FA serta kompetisi Liga Champions. Didalam kompetisi Piala FA, Setan Merah akan menjalani pertandingan babak kelima disaat akhir pekan nanti dengan melawan Chelsea. Sedangkan didalam kompetisi Liga Champions nantinya, mereka harus berusaha untuk membalikan keadaan menghadapi PSG dalam laga leg kedua setelah kalah 0-2 dalam leg pertama agar bisa lolos kedalam babak delapan besar.

Dalam kompetisi Premier sendiri, MU sejatinya masih memiliki peluang meraih juara andai dilihat dari segi matematis. Dengan tersisa sebanyak 12 pertandingan dan memiliki 51 angka, MU total masih bisa menuntaskan musim dengan terolehan 87 angka. Untuk menjadi juara. MU hanya perlu memenangkan semua pertandingan yang tersisa dan berharap kalau Manchester City da Liverpool yang ada diurutan pertama dan kedua dengan terolehan 65 angka harus kalah setidaknya delapan pertandingan secara total.

Selain itu tentunya mereka juga berharap kalau Tottenham Hotspur yang ada diurutan ketiga juga harus kalah sebanyak empat pertandingan. MU juga pantang kalah mengingat bahwa mereka hanya punya jarak satu angka saja dari Arsenal dan juga Chelsea yang ada pada urutan kelima dan keenam.

 

VAR Dinilai De Jong Cuma Menguntungkan Tim Raksasa

Frankie de Jong menilai bahwa teknologi Video Assistant Referee atau yang disebut VAR merupakan teknologi yang menguntungkan untuk tim besar. Hal tersebut disebutnya setelah laga antara Ajax Amsterdam melawan Real Madrid berakhir dengan skor 1-2 yang dimana ada sebuah insiden pada saat gol Ajax dianulir oleh sang wasit.

Ajax harus kalah dari Real Madrid dalam laga yang dilangsung di Stadion Johan Cruyff di hari Kamis tanggal 14 Febuari 2019 dini hari WIB.  Dua gol yang didapatkan oleh Los Blancos berhasil diciptakan oleh Karim Benzema pada saat menit ke 60 dan juga oleh Marco Asensio disaat menit ke 87.

Sedangkan Ajax cuma mampu membuat satu gol balasan saja disaat menit ke 75 melalui Hakim Ziyech.

Kekalahan tersebut bisa dikatakan sangatlah menyakitkan untuk tim tuan rumah dikarenaan mereka mampu untuk terus membuat Los Blancos kewalahan disepanjang pertandingan. Tercatat bahwa tim yang dilatih oleh Eric Ten Hag tersebut mampu untuk membuat sebanyak 13 kali tembakan yang dimana tujuh diantaranya berhasil mengarah tepat kearah sasaran.

Ajax juga seharusnya dapat menutup pertandingan di babak pertama dengan keunggulan 1-0 andai saja gol yang diciptakan oleh Nicolas Tagliafico disaat menit ke 38 tidaklah dianulir oleh sang wasit setelah menyaksikan Video Assistant Referee atau VAR. Gol tersebut tidak disahkan dikarenakan Dusan Tadic dinilai sudah mengganggu penjaga gawang.

Hal tersebut tentu saja sangat membuat para pemain Ajax merasa kecewa. Salah satu yang mengungkapkan rasa kesalnya tidak lain adalah Frankie de Jong.

Pemain gelandang yang pada musim depan nanti akan memperkuat FC Barcelona tersebut menuding kalau VAR hanyalah memberikan keuntungan kepada tim-rim raksasa saja.

“Kami tentunya bermain dengan sangat baik sebagai tim. Sangat sayang sekali karena gol kami harus dianulir. Mungkin hal yang sama seperti itu mudah untuk dilakukan dan dapat menguntungkan tim besar. Kami juga telah memilikinya dengan sangat baik,” ujar De Jong.

“Namun setelah itu kami dapat melakukannya dengan baik dan juga memiliki beberapa peluang. Akan tetapi sayangnya itu sama sekali tidak memberikan kami sebuah hasil yang jauh lebih baik,” lanjutnya.

Meskipun seperti itu, namun pemain yang masih berusia 21 tahun tersebut tetaplah sangat bangga dikarenakan memiliki semangat juang sebagai tim. Dia juga berharap kalau Ajax dapat bermain dengan cara yang sama seperti saat bertandang ke markas Real Madrid.

“Di Spanyol, tentu kami dapat bermain dengan cara yang sama seperti apa yang kami lakukan dikandang kami dengan semua keberanian dan juga keyakinan. Masih belum ada yang dipastikan akan lolos. Real tentu akan merasakan yang jauh lebih banyak lagi tekanan didepan para pendukung mereka sendiri,” katanya lagi.

“Kami tentu sangat bangga dengan tim yang seperti ini. Kami bertarung bersama-sama. Sangat mengecewakan sekali untuk memberikan mereka sebuah kemenangan pada saat menit terakhir pertandingan. Andai kami bermain dengan sikap yang sama, nyali yang sama juga dan tentu tidak ada hal yang perlu kami takutkan di Santiago Bernabeu,” tutupnya dengan keyakinan.

Untuk pertandingan leg kedua nantinya akan dilangsungkan pada tanggal 6 Maret 2019 dini hari WIB mendatang di Santiago Bernabeu. Untuk dapat lolos kedalam babak delapan besar, Ajax harus dapat memenangkan laga tersebut dengan selisih dua gol. Sebab meski mereka memenangkan laga tersebut mereka akan tersingkirkan karena kalah dari regulasi gol tandang.

Zlatan Ibrahimovic Bertahan Di LA Galaxy

Striker Swedia telah mengumumkan keputusannya untuk tetap dengan klub saat ini di tengah-tengah spekulasi tentang masa depannya Zlatan Ibrahimovic telah mengkonfirmasi bahwa ia tinggal di MLS dengan LA Galaxy.

Ada banyak spekulasi seputar masa depan striker bintang itu, dengan hubungan kuat dengan mantan klub AC Milan sampai mereka mengesampingkan kesepakatan pekan lalu. Namun, tampaknya kemandirian lincah diatur untuk musim lain di Los Angeles setelah pengumuman yang biasanya dramatis melalui pos media sosial.

Ibrahimovic mencetak 22 gol dan mencetak tujuh assist dalam 27 pertandingan liga untuk LA Galaxy karena ia terus menentang proses penuaan setelah bergabung dengan transfer bebas dari Manchester United dan mencetak gol karirnya yang ke-500 dalam mode akrobatik melawan Toronto. Striker itu akhirnya memenangkan penghargaan MLS Goal of the Year dan mengalahkan Wayne Rooney menjadi pendatang baru terbaik.

Namun, LA Galaxy kehilangan pertandingan terakhir mereka dari kampanye melawan Houston Dynamo ketika mereka membutuhkan hasil imbang untuk lolos ke babak playoff dan pemain depan veteran jelas merasa bahwa dia memiliki bisnis yang belum selesai di MLS.

Dia telah memenangkan gelar liga hampir di mana saja dia pergi, termasuk di Belanda dengan Ajax, Italia dengan Juventus, Inter dan Milan, Spanyol dengan Barcelona dan di Prancis dengan Paris Saint-Germain. Mantra singkatnya di Inggris bersama United melihatnya membantu Setan Merah meraih kemenangan di Liga Europa dan Piala EFL, meski trofi Liga Primer terhindar dari genggamannya.

Seandainya dia meninggalkan LA Galaxy, itu akan menjadi klub pertama dalam kariernya sejak Malmo di mana dia tidak memenangkan perak. Ada minat yang kuat di 37 tahun, bagaimanapun, dari Milan, serta link ke Malmo di Swedia asalnya dan kesepakatan sementara kembali ke Jose Mourinho yang berjuang United, tetapi ia telah menolak semua tawaran untuk tetap di Los Angeles .

Rincian tepat dari kesepakatan baru Ibrahmovic belum dikonfirmasi. Ibrahimovic akan memulai kampanye MLS baru dengan LA Galaxy pada Maret 2019.

Sejumlah Pemain Manchester United di klaim ingin Jose Mourinho di pecat

Sejumlah pemain diklaim mantan gelandang Manchester United, Paul Ince, menginginkan agar Jose Mourinho segera dipecat dari kursi manajer klub tersebut.

Ince menyebut beberapa di antara mereka mulai membentuk klik karena sudah tidak lagi cocok dengan Mourinho. Paul Pogba disebut sebagai salah satu pemain yang ingin pelatih asal Portugal itu segera didepak dari posisinya.

Orang-orang punya hak untuk meragukan manajer (Mourinho), tapi Anda juga harus melihat ke para pemain. Apakah mereka juga benar-benar membuat perubahan?

Saya pernah berada di sana, para pemain mulai membentuk klik dengan harapan agar manajer mereka di pecat dan itu pula terjadi saat ini di Old Trafford terang Paulince.

Paul Ince melihat suasana di Manchester United juga sudah tidak kondusif dengan kerap berseteruan sejumlah pemain dengan Jose Mourinho disebut kerap terlibat Konflik dengan sang Manajer adalah Paul Pogba.

Mourinho Juga di kenal sebagai Manajer yang kerap bahwa asisten manajer dan sejumlah pemain yang paling ia percayai di klub tempat ia melatih.

Tengok saja sejumlah tim yang pernah ia tangani bahwa ia memilih yang ia yakni sukai dan percayai, tapi mereka juga tidak cukup bagus.

Kekalahan setan merah dari Liverpool dengan telak 1-3 pada laga ke 16 Liga Iggris 2018/2019 di Stadion Anfield membuat posisi Mourinho kian terdesak kondisi itu di nilai Paul Ince semakin membuat ikatan di dalam skuat Setan merah kian merenggang . Manchester United yang tertahan di peringkat keenam Klasemen semetara di Liga Inggris 2018/2019 kini berada 19 poin dari The Reds di posisi Puncak

Semakin terang bederang bahwa klub berada dalam situasi kacau dari atas hingga bawah kesenjangan antara united dan Liverpool dan Manchester City semakin besar.

 Ada sejumlah isu pula yang menyatakan terlalu banyak pemain yang sebenarnya tak layak mengenakan Jersey Manchester United.

 

Pages:1234567...50»

Jadwal Bank Offline

BCA-AL Mandiri - AL

BRI - AL BNI - AL

CIMB- AL

QR CODE AGEN LIGA

QR CODE AGENLIGA

Arsip Berita