BlackBerry Messenger AgenLiga

Erik Ten Hag Sang Arsitek Ajax

 

Angkat topi buat kiprah Ajax Amsterdam di Liga Champions musim ini. Tim-tim top sudah dikalahkan oleh tim besutan Erik Ten Hag itu untuk menjejakkan kakinya di babak semifinal.

Ajax berhasil melangkah ke babak semifinal Liga Champions di musim ini setelah menundukkan Juventus di Allianz Stadium pada hari Rabu (17/4/2019) dinihari WIB di leg II. Ketinggalan terlebih dulu setelah dijebol Cristiano Ronaldo, Ajax membalikkan keadaan lewat Donny Van De Beek dan Matthijs De Ligt.

Dengan kemenangan tersebut, Ajax pun melangkah dengan agregat 3-2. Kemenangan ini meneruskan tren positif De Godenzonen di Liga Champions.

Juventus menjadi korban Ajax sesudah klub raksasa lainnya, Real Madrid, pada babak 16 besar. Bahkan sebenarnya sejak di fase grup, tim asuhan Ten Hag itu sudah memperlihatkan potensi besarnya.

Bergabung bersama Bayern Munchen, Benfica dan AEK Athena, Ajax lolos tanpa kekalahan walaupun mesti puas berada di peringkat 2. Klub asal Belanda itu meraih 3 kemenangan dan 3 kali seri, finis dengan 12 poin dan ketinggalan 2 poin dari Die Roten.

Atas kiprah Ajax ini, Ten Hag pun patut mendapatkan kredit besar. Bagaimana tidak, murid Josep Guardiola itu berhasil memaksimalkan tim muda yang dimilikinya (rata-rata usia Ajax 24,1 tahun) untuk bertarung dengan tim-tim yang berisikan pemain bintang dan berpengalaman seperti Munchen, Madrid dan Juventus.

Ya, Ten Hag dapat disebut sebagai anak didik Guardiola. Keduanya bertemu di Munchen pada tahun 2013. Munchen tertarik dengan Ten Hag setelah melihat kiprah si pelatih bersama Go Ahead Eagles pada musim 2012/2013, kemudian menjadikannya sebagai pelatih Bayern Munchen II alias tim reserve.

Sementara Guardiola ditunjuk sebagai pelatih tim utama di saat yang bersamaan. Peluang bekerjasama dengan Guardiola inilah yang lantas memoles Ten Hag.

“Saya belajar banyak dari Josep Guardiola. Filosofinya itu amat sensasional, yang dia lakukan sewaktu di Barcelona, Bayern Munchen dan sekaran Manchester City. Gaya menyerang nan atraktif membuat Guardiola memenangkan banyak hal” kata Ten Hag.

“Struktur inilah yang coba saya terapkan bersama Ajax Amsterdam” tambah pelatih berusia 49 tahun itu.

Salah satu ilmu terbesar yang diperoleh Ten Hag dari Guardiola adalah fleksibilitas taktik. Ten Hag biasanya memainkan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1, namun sangat dinamis di dalam praktik di atas lapangan. Dalam riwayat melatihnya, pelatih kelahiran Haaksbergen, 2 Februari 1970 itu tidak ragu-ragu memainkan formasi 4-4-2 berlian bahkan pola 5-3-2.

Selain hal itu, pendekatannya kepada para pemain juga menarik dan begitu detail. Ten Hag amat mementingkan aspek mental. Ten Hag akan memperhatikan reaksi-reaksi para pemainnya terhadap sebuah insiden negatif, misalnya kehilangan bola, pelanggara atau saat kebobolan.

Dari hasil pengamatan ini, Ten Hag bakal menerapkan pendekatan yang dinilai tepat untuk setiap pemain berdasarkan reaksinya. Dari sanalah muncul sesi latihan yang intensif dan panjang, yang bahkan sering dirasa membosankan oleh para pemainnya.

Maka tidak heran jika Ajax yang  rata-rata usianya termuda di antara perempatfinalis, memiliki kematangan untuk bersaing dengan tim seperti Madrid dan Juventus. Ajax bahkan selalu memulai leg II dalam posisi yang tidak menguntungkan, ketinggalan 1-2 dari Madrid, kalah gol tandan dari Juventus setelah berimbang 1-1 di Amsterdam.

Yang menarik adalah Ten Hag masih berkesempatan melawan sang mentor, Guardiola di semifinal. Kalau City mampu membalikkan ketertinggalan 0-1 melawan Tottenham Hotspur, maka Ten Hag vs Guardiola akan terwujud di babak semifinal.

Kalau itu terjadi, kira-kira siapa yang bakal menang? Ten Hag atau Guardiola?

Jadwal Bank Offline

BCA-AL Mandiri - AL

BRI - AL BNI - AL

CIMB- AL

QR CODE AGEN LIGA

QR CODE AGENLIGA

Arsip Berita